Membaca dan
menulis merupakan aktivitas yang penting dalam kehidupan. Aktivitas membaca dan menulis memungkinkan
seseorang dapat menempuh pendidikan, memperoleh pekerjaan, mendapatkan
informasi berbentuk tulisan, melakukan komunikasi, dan mendapatkan hiburan. Untuk itu,
yayasan memfasilitasi pelatihan baca tulis dengan huruf braille, tuliasan
khusus diperuntukkan para penyandang tuna netra. Baik itu
tulisan huruf & abjad latin, maupu bahasa arab, khususnya belajar baca
tulis Al-qur’an.
Rabu, 27 Januari 2016
Materi kursus selalu up to date dan
aksesibel bagi tunanetra. Laboratorium Komputer berjaringan internet, dengan
komputer terbaru didalam ruangan khusus. Instruktur yang berkualitas dan profesional di
bidangnya. Tempat kursus
yang mudah dijangkau dan memiiki fasilitas yang memadai bagi tunanetra. Peserta
khusus tidak dipungut biaya.
"Komputer Bicara" adalah komputer yang dilengkapi dengan
software dengan petunjuk suara, sehingga dapat membantu Penyandang Tuna Netra dalam
mengoperasikan computer.
Setelah
komputer dinyalakan, tampilan di layar memperlihatkan menu login untuk masuk ke
windows, JOSP, nama software tsb, akan
bersuara memberitahu kita bahwa kita sedang berada di menu login serta
menyebutkan nama user dan administrator. Tidak seperti orang normal, penyandang
tuna netra mengarahkan cursor menggunakan keyboard, setelah login, lalu tekan
tombol start, lalu tekan keyboard untuk mengarahkan pencarian ke program
Microsoft Word. Kita bisa menemukan
program yang dicari setelah JOPS memberitahu lewat suara bahwa icon Ms Word Program
Microsoft Word terbuka.
Mulai ketikkan
sebuah kata di sana, Setiap huruf yang
diketik, JOPS menyebutkannya. "Software
penuntun” ini juga ada yang berbahasa Indonesia, tapi masih kurang canggih
dibandingkan “JOSP Software berbahasa Inggris."
"JOSP
ini juga dapat membantu saat mengakses internet. Bisa membaca tulisan, juga bisa membaca table.
"Pemerintah kita tidak menyediakan
aplikasi ini untuk tunanetra. Kalau
beli, harga satu keping CD JOSP kurang lebih tiga juta rupiah. Rata-rata teman-teman tunanetra mendapatkan
aplikasi JOSP dengan cara mengcopy, walaupun tidak/kurang paham bahasa Inggris.
Ada teman tunanetra yang tidak mempunyai
latar belakang pendidikan, tapi bisa juga mengoperasika JOSP karena sudah terbiasa." Dengan komputer bicara lewat shofwer JOSP
yang berbahasa Inggris, maka mau tidak mau mengharuskan para penyandang tunanetra
harus mengerti bahasa Inggris.
Pak Panggeng adalah anak seorang petani di
daerah Boyolali. Anak ke 2 dari 6 bersaudara, lahir pada 9 September 1976. Beliau tidak buta sejak lahir. Ketika sedang asyik bermain dengan
teman-temannya, Pak Panggeng terkena peluru pistol mainan anak-anak pada mata
kirinya. Mata kirinya sakit dan tidak
bisa melihat. Dan tragisnya, mata
kanannya pun juga tidak bisa melihat.
Hingga Pak Panggeng harus kehilangan penglihatannya saat ia duduk di kelas 5 SD,
tepatnya tahun 1988.
Pak Panggeng kesulitan mengakses SLB,
hingga akhirnya ada seorang wanita katolik aktifis gereja bernama Sita
Damayanti yang memberinya informasi keberadaan SLB PSBN, Panti Sosial Bina
Netra di Solo.
Di tahun 1995 pak Panggeng dapat mengenyam
pendidikan di SLB PSBN. Saat itu Pak
Panggeng berusia 18 tahun, masuk ke kelas keterampilan. Selama 2 tahun belajar di sana, termasuk
mengikuti beberapa kursus s/d satu tahun.
Selama belajar di sana, beliau
tinggal di asrama tunanetra. Beliau ikut
olahraga Judo, bekerjasama dengan Komite Olahraga Nasional indonesi (KONI)
Surakarta. Melalui olahraga itu Pak
Panggeng menuai prestasi, di tahun 1995 beliau ikut ekspedisi Pra PON di
Ciloto, di tahun 1996 ia ikut ekspedisi PON di Jakarta melawan atlet DKI. Lawannya adalah orang normal yang punya
penglihatan, tapi beliau menang. Pada
tahun 1999 Pak Panggeng pergi ke Thailand mengikuti perlombaan penyandang cacat
se-Asia Pasifik, & memperoleh juara harapan 1. Kalah dalam perebutan medali perunggu oleh
atlet Jepang. Tapi kini ia tidak terlalu
aktif di olahraga Judo, hanya sesekali pernah dipanggil dalam beberapa event.
Tahun 1998 Pak Panggeng pindah ke Jakarta,
di Bangka, dekat dengan perguruan tinggi Al-Hikmah. Ia membuka praktek pijat. Pada tahun 2001 ia
berkenalan dengan Bapak Soban Jauhari, seorang pelanggannya, pertemanan itu
membuatnya terjun ke medan dakwah. Tahun
2003 beliau berkenalan dengan Aboe Bakar Al-Habsyi, dengan Anis Matta, Ustadz Hasib, Ahmad Riyadi, dll.
Pada tahun 2008 Pak Panggeng pindah ke
Ciledug, menempati tanah yang sudah dibelinya sejak 2006, melalui perantaraan
pamannya, uang untuk membeli tanah tsb adalah hasil menabung, tanah itu ia
gunakan untuk praktek dan dakwah, di tahun 2011 rumah tsb bukan saja digunakan
sebagi tempat tinggal tapi juga untuk pusat kegiatan yayasan PKTN.
Dengan kegigihannya tsb Pak Panggeng telah
memiliki binaan kurang lebih 70 orang.
Selain program edukasi tsb, Pak Panggeng juga punya jadwal rutin ta'lim
dengan seluruh binaannya sepekan sekali dengan menghadirkan ustadz dari
luar.
Alhamdulillah
Pak Panggeng sudah membina rumah tangga dengan seorang perempuan pujaan (bukan
penyandang tunanetra) & telah dikaruniai 2 anak laki-laki. Ditengah kesibukannya membina keluarga & tanggung
jawab kepada keluarganya termasuk mencari nafkah, beliau masih sempatkan
membina yayasan dengan infak dari penghasilannya sendiri.
Yayasan Peduli
Kesejahteraan Tunanetra yang disingkat PKTN, didirikan pada tanggal 20 april
2006 oleh Pak M. Panggeng Viharmiles. Yayasan
PKTN ini didirikan, karena pengalamannya sering kesulitan mengakses pendidikan,
teknologi, & informasi, serta lapangan pekerjaan, maka tercetuslah ide
membuat Yayasan sebagai wadah untuk Penyandang Disabilitas Khususnya Penyandang
Tuna Netra berkumpul, menimba ilmu, informasi, teknologi, dan ketrampilan yang
dapat dijadikan sarana untuk hidup mandiri berdaya guna.
Dari pengalamannya & Rasa kemanusiaannya membuatnya tergerak membantu mengedukasi sesama penyandang tunanetra. Semua program pendidikan yang diluncurkannya tidak dipungut biaya alias gratis bagi penyandang tunanetra. Program pendidikan yang berikan Yayasan PKTN kepada siswa Penyandang tunanetra adalah :
Dari pengalamannya & Rasa kemanusiaannya membuatnya tergerak membantu mengedukasi sesama penyandang tunanetra. Semua program pendidikan yang diluncurkannya tidak dipungut biaya alias gratis bagi penyandang tunanetra. Program pendidikan yang berikan Yayasan PKTN kepada siswa Penyandang tunanetra adalah :
1. Pelatihan Komputer Bicara
2. Pelatihan membaca, menulis braille dan Al Quran Braille.
3. Konseling
4. Pelatihan Orientasi dan Mobilitas
Langganan:
Postingan (Atom)







